Killbill1’s Weblog

Ini dia motor 2 tak (orang kita nyebut begitu,kalo di Malaysia 2 lejang,kalo bahasa Inggrisnya 2 stroke) bertulang bawah (underbone, kita masih salah kaprah dengan pikiran anderbun sebagai motor bebek balap) yang sempat menjadi legenda balap motor di Asia Tenggara sekitar tahun 1994 s/d 1998’an. Honda Nova Tena sebagai salah satu kontestan balap saat itu yang dipakai hampir semua pembalap Thailand selalu mendominasi kejuaraan untuk kelas underbone 110-115cc, dengar-dengar sih HRC juga ikut membantu. Motor yang secara spesifikasi teknis jauh diatas pesaingnya ini, hampir susah dikalahkan apalagi kalo bermain di sirkuit permanen yang mengumbar power.

Spesifikasi umum : Mesin 2 langkah, kapasitas silinder 109cc, persneling 5 speed kopling manual untuk tipe RS udah closed ratio lagi, kalo tipe R atau S hanya 4 speed dengan kopling otomatis, rem depan udah depan belang pake cakram untuk tipe RS, sedangkan tipe R depan aja yang cakram sementara belakang cuma pake tromol, suspensi depan udah ayam jago, belakang udah monosok (kecuali tipe S yang merupakan seri awal belum monosok).

Sementara untuk tingkat nasional dimana kelas puncak balap motor tanah air masih mengagungkan kelas 2 tak 110-115 cc sebagai primadona, maka kehadiran Honda Nova Tena (versi tanpa radiator yang mana bisa dilihat dari silinder head pakai model pendingin sirip) beberapa tahun kemudian mulai menggerogoti kejayaan Suzuki dan Yamaha. Bahkan kelewat ngetopnya ini motor, beberapa tahun kemudian Honda Nova Tena warna putih (versi radiator) menjadi andalan pada masa awal mekanik kondang roadrace nasional Star Motor (Benny Jatiutomo) ikut balapan yang saat itu dijoki oleh Imanuddin (18), untuk tahun selanjutnya Honda Nova Tena (versi tanpa radiator yang mana bisa dilihat dari silinder head pakai model pendingin sirip) bersama Benny Jatiutomo mengantarkan Ahmad Jayadi (17) menjadi juara nasional yang sudah menggunakan sistem region dan final di Sentul dan tahun berikut kembali mempertahankan juara nasional melalui pembalap Rafid Poppy Sugiarto (77) mengobrak-abrik dominasi pembalap top roadrace nasional Hendriansyah yang saat itu membela Suzuki.

Karena waktu itu belum ada importir umum atau gak dijual di Indonesia apalagi Honda Indonesia juga gak ngeluarin motor ini, sebagai pelampiasan karena belum bisa beli atau memiliki maka buat tampilan part/onderdil seperti lampu depan atau lampu belakang (tail lamp) menjadi bagian yang bisa di aplikasi ke motor yang udah dimodifikasi.

Laman